Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini lebih sering dibicarakan dari sisi makanan. Apakah porsinya cukup, apakah menunya bergizi, bagaimana kualitas bahan pangan, apakah makanan habis dikonsumsi anak, hingga persoalan keamanan pangan.
Semua itu penting. Bahkan wajib menjadi perhatian karena MBG menyangkut makanan yang dikonsumsi jutaan anak Indonesia. Tetapi ada satu dampak besar yang sering luput dari pembicaraan yakni, lapangan kerja.
Data Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan, hingga 22 Mei 2026, program MBG telah menyerap sekitar 1,28 juta tenaga kerja yang terlibat langsung dalam operasional 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Angka ini bukan lagi sekadar target. 1,28 juta adalah tenaga kerja yang sudah terserap dalam ekosistem MBG berdasarkan data BGN. Barangkali angka inilah yang layak mendapatkan perhatian lebih besar.
MBG Bukan Hanya Soal Makanan
Ketika masyarakat melihat satu dapur MBG, yang terlihat mungkin hanya aktivitas memasak dan membagikan makanan. Tetapi di belakang satu dapur terdapat banyak pekerjaan. Ada orang yang menyiapkan bahan pangan, mencuci dan mengolah makanan, memasak, mengemas, membersihkan peralatan, mengelola administrasi, melakukan distribusi hingga memastikan makanan sampai kepada penerima manfaat.
Ketika jumlah SPPG mencapai 29.225 unit, skala aktivitas ekonominya tentu berbeda dengan sebuah program yang hanya membagikan makanan dari satu pusat produksi. Rata-rata sederhana dari data tersebut menunjukkan sekitar 44 pekerja per SPPG. Angka itu merupakan hasil pembagian jumlah tenaga kerja dengan jumlah SPPG, bukan berarti setiap dapur memiliki jumlah pekerja yang sama.
Artinya, MBG telah menciptakan ekosistem pekerjaan yang tersebar hingga tingkat lokal, bukan hanya pekerjaan yang terkonsentrasi di pusat pemerintahan atau perusahaan besar.
1,28 Juta Itu Baru Pekerja di Dapur
BGN juga mencatat 142.387 pemasok terlibat dalam rantai pasok MBG hingga 22 Mei 2026. Dari jumlah tersebut terdapat 59.921 UMKM, 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, 1.410 BUMDes dan 157 BUMDesma. Sebanyak 66.903 pemasok lainnya berasal dari berbagai penyedia bahan pangan dan jasa pendukung.
Jadi, angka 1,28 juta pekerja belum menggambarkan seluruh aktivitas ekonomi yang muncul dari MBG. Ada tenaga kerja yang bekerja langsung di luar SPPG. Mereka itu adalah petani yang memasok beras dan sayuran, peternak yang memasok telur dan ayam, nelayan yang memasok ikan, pedagang, pengemudi, penyedia logistik, pelaku UMKM, koperasi hingga BUMDes yang masuk dalam rantai pasok. Satu porsi makanan akhirnya menciptakan rantai transaksi yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat di meja makan.
Dari Anggaran Negara Menjadi Pendapatan Masyarakat
Barangkali ukuran dampak MBG tidak cukup hanya melihat berapa porsi makanan yang telah dibagikan. Kita juga harus melihat berapa banyak orang yang memperoleh pekerjaan dan berapa banyak pelaku usaha yang memperoleh pasar. Program dengan anggaran besar akan memberikan dampak ekonomi yang lebih kuat apabila belanjanya menciptakan permintaan terhadap produksi masyarakat lokal.
Ketika SPPG membeli bahan pangan secara rutin, tercipta permintaan yang berulang. Ketika permintaan muncul secara rutin, produsen memiliki alasan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi. Pada titik inilah MBG berpotensi menjadi lebih dari sekadar program sosial melainkan juga sebagai mesin permintaan ekonomi.
Jangan Hanya Menghitung Porsi, Hitung Juga Pekerjaan
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan bahwa ketika jumlah penerima manfaat MBG mencapai sekitar 82 juta orang, program tersebut berpotensi menciptakan 3 juta hingga 5 juta lapangan kerja. Pada Februari 2026, ketika sekitar 22 ribu SPPG beroperasi, Presiden menyebut sekitar 1 juta lapangan kerja telah tercipta. Data BGN pada Mei kemudian menunjukkan angka 1,28 juta tenaga kerja.
Karena itu, penting membedakan antara realisasi dan proyeksi. 1,28 juta merupakan angka penyerapan tenaga kerja yang telah dicatat BGN. Sementara 3–5 juta merupakan potensi ketika cakupan MBG berkembang menuju target penerima manfaat yang lebih besar.
Perbedaan ini penting agar publik tidak mencampuradukkan capaian dengan target. Namun satu hal sudah jelas bahwa MBG telah menjadi salah satu program pemerintah yang menciptakan aktivitas kerja dalam skala sangat besar.
Bu Nurul: Jangan Hanya Lihat Apa yang Ada di Piring
Sekretaris PD KPPG Jember, Nurul Rachmawati MS, menilai dampak penciptaan lapangan kerja MBG perlu mendapatkan perhatian yang sama dengan persoalan kualitas makanan.
“Selama ini kita banyak membicarakan MBG dari apa yang ada di dalam piring. Itu memang penting. Tetapi kita juga perlu melihat apa yang terjadi di balik piring itu. Ada orang yang bekerja, ada UMKM yang memasok, ada petani yang menghasilkan bahan pangan, ada peternak, ada pedagang dan ada transportasi yang bergerak.”
Menurut Nurul, angka 1,28 juta tenaga kerja menunjukkan bahwa MBG telah menciptakan dampak ekonomi yang nyata. “Kalau sudah 1,28 juta orang terserap dalam ekosistem MBG, ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan hanya program pemberian makanan, tetapi sudah menjadi aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.”
Ia menilai pemerintah perlu memastikan penciptaan pekerjaan tersebut terus memberikan manfaat kepada masyarakat lokal. “Yang harus kita jaga sekarang adalah kualitas pekerjaannya. Jangan hanya mengejar jumlah tenaga kerja, tetapi pastikan masyarakat sekitar SPPG mendapatkan kesempatan. Begitu juga pemasoknya harus semakin banyak berasal dari petani, UMKM, koperasi, BUMDes dan pelaku usaha lokal.”
Tantangan Berikutnya: Dari Banyak Pekerjaan Menjadi Ekonomi yang Berkualitas
Besarnya penyerapan tenaga kerja tentu patut diapresiasi. Tetapi pemerintah tidak boleh berhenti pada angka. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: Siapa yang mendapatkan pekerjaan itu? Berapa besar pendapatannya? Apakah pekerjaan tersebut berkelanjutan? Berapa banyak bahan pangan yang dibeli dari petani lokal? Berapa banyak UMKM yang omzetnya meningkat karena MBG?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah MBG benar-benar menghasilkan multiplier effect bagi ekonomi rakyat. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar menciptakan pekerjaan di dapur. MBG harus mampu menciptakan ekosistem pekerjaan dari hulu sampai hilir.
Jika seluruh rantai tersebut berjalan bersama, maka uang yang dikeluarkan negara tidak berhenti ketika makanan sampai ke tangan penerima manfaat. Uang itu terus bergerak dari negara ke SPPG, dari SPPG ke pemasok, dari pemasok ke petani dan pelaku usaha, kemudian menjadi pendapatan bagi rumah tangga pekerja.
1,28 Juta Harus Menjadi Angka yang Dibicarakan
Perdebatan mengenai MBG tetap harus kritis. Kualitas makanan harus diawasi. Keamanan pangan harus dijaga. Pengadaan harus transparan. Pemborosan harus dicegah. Tetapi di tengah semua perdebatan tersebut, publik juga perlu melihat capaian yang sudah terukur.
1,28 juta tenaga kerja bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada 1,28 juta orang yang memperoleh pekerjaan dari sebuah program negara. Dan ketika pekerjaan itu terhubung dengan 142.387 pemasok, dampaknya mulai bergerak lebih jauh ke dalam ekonomi masyarakat.
Karena itu, sudah waktunya melihat MBG dengan kacamata yang lebih lengkap. Sebab pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan hanya ketika makanan sampai kepada anak di sekolah. Keberhasilan MBG juga ketika program tersebut mampu menciptakan pekerjaan, membuka pasar, menghidupkan usaha lokal dan membuat uang negara benar-benar berputar di tengah masyarakat.
“Kalau kita hanya melihat makanan, kita hanya melihat ujungnya. Tetapi kalau kita melihat lapangan kerja dan rantai pasoknya, kita akan melihat bahwa MBG memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar,” kata Nurul. (timms)





