Kabupaten Jember tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil tembakau terbaik, tetapi juga sebagai rahim bagi lahirnya ulama-ulama besar berkaliber nasional. Dari bumi Jember, dua bersaudara putra pendiri Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (KH. Muhammad Shiddiq), yakni KH. Mahfudz Shiddiq dan KH. Achmad Shiddiq, mencatatkan tinta emas dalam sejarah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
1. KH. Mahfudz Shiddiq: Konseptor Modernisasi Tanfidziyah PBNU
KH. Mahfudz Shiddiq merupakan figur pemuda yang membawa napas pembaharuan dalam tata kelola organisasi NU pada era pra-kemerdekaan. Kiprah kepemimpinannya mencapai puncak saat terpilih sebagai Ketua HBNO (Hoofdbestuur Nahdlaatoes Oelama, istilah sebelum PBNU) dalam Muktamar ke-12 NU di Malang pada tahun 1937.
Terpilihnya KH. Mahfudz Shiddiq dalam muktamar tersebut mengejutkan banyak pihak karena usianya yang masih sangat muda (30 tahun). Namun, kapabilitas intelek dan ketegasannya membuat para ulama sepuh memercayakan kursi kepemimpinan eksekutif NU kepadanya hingga ia terpilih kembali dalam Muktamar ke-13 (Menes, 1938), Muktamar ke-14 (Magelang, 1939), dan Muktamar ke-15 (Surabaya, 1940).
Di bawah kepemimpinannya, dirumuskan gagasan Mabadi Khaira Ummah (gerakan pembentukan umat terbaik melalui prinsip kejujuran, amanah, dan keadilan) serta penguatan penerbitan media koran dan majalah resmi NU.
2. KH. Achmad Shiddiq: Arsitek Penerimaan Pancasila dan Khittah 1926
Adik kandung dari KH. Mahfudz Shiddiq, yaitu KH. Achmad Shiddiq, mencatatkan sejarah monumental pada era Orde Baru. Kiprah tertinggi beliau terjadi saat ditetapkan sebagai Rais ‘Aam PBNU dalam Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada tahun 1984.
Proses terpilihnya KH. Achmad Shiddiq di Situbondo diwarnai ketegangan politik nasional terkait asas tunggal Pancasila. KH. Achmad Shiddiq tampil menjadi pemikir utama yang merumuskan hubungan antara Islam dan Pancasila, dengan menegaskan bahwa Pancasila dan Islam tidak saling bertentangan.
Bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, duet KH. Achmad Shiddiq dan Gus Dur berhasil membawa NU kembali ke Khittah 1926 dan keluar dari politik praktis. Beliau menjabat sebagai Rais ‘Aam hingga wafat pada tahun 1991 setelah terpilih kembali di Muktamar ke-28 Krapyak (1989).
Dedikasi Utama untuk Umat dan Bangsa
Guna menggali lebih dalam sisi kepemimpinan dan dedikasi kedua ulama tersebut.
KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman, putra kandung KH. Achmad Shiddiq, yang juga keponakan dari KH. Mahfudz Shiddiq menceritakan kedua tokoh ulama tersebut semasa hidupnya.
“Paman KH. Mahfudz Shiddiq dan Ayah KH. Achmad Shiddiq dididik langsung oleh kakek saya, KH. Muhammad Shiddiq, dengan disiplin ilmu keagamaan yang kuat dan wawasan kebangsaan yang luas. Paman Mahfudz dikenal sangat tertib organisasi dan meletakkan fondasi kemandirian ekonomi warga NU melalui gerakan Mu’awanah. Sedangkan Ayah Achmad Shiddiq selalu menekankan prinsip Tawassuth (moderasi) dan Tawazun (seimbang). Saat Muktamar 1984 di Situbondo, keputusan Ayah Achmad Shiddiq mengawal penerimaan Pancasila bukan karena tunduk pada kekuasaan, melainkan demi menyelamatkan kelangsungan dakwah Islam dan keutuhan NKRI. Beliau berprinsip bahwa menjaga kedamaian bangsa adalah bagian dari syariat,” terang Gus Firjaun saat menjelaskan warisan pemikiran kedua sesepuh NU asal Kabupaten Jember.
Dengan demikian, Kabupaten Jember tidak hanya menjadi tempat persemayaman dan sejarah bagi kedua tokoh ini, tetapi juga menyumbang warisan pemikiran keislaman inklusif yang terus menjadi pegangan warga Nahdliyin hingga hari ini.
Sumber:
– Tebuireng.Online
– Laduni.id





