JEMBER – Setiap pekan, harinya tidak tentu. Kadang Kamis kadang Sabtu, ratusan butir telur bebek dikirim ke rumah Bu Yuni di Desa Arjasa, Kecamatan Sukowono. Satu per satu keranjang telur itu diturunkan dari kendaraan pengangkut, kemudian disusun rapi sebelum memasuki proses pengolahan menjadi telur asin dengan cita rasa unik yang kini banyak diminati.
Siapa sangka, rumah sederhana itu adalah dapur produksi telur asin yang memasok pasar-pasar tradisional di Jember hingga Bondowoso. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, produknya mulai merambah penjualan secara daring sehingga peminatnya semakin luas karena berasal dari berbagai daerah.

Awalnya Tidak Mudah ..
Beberapa tahun lalu, Bu Yuni hanya memproduksi telur asin dalam jumlah kecil. Pesanan sebenarnya terus berdatangan, tetapi keterbatasan modal membuatnya sulit berkembang. Membeli telur bebek dalam jumlah banyak membutuhkan dana yang tidak sedikit. Akibatnya, produksi sering kali disesuaikan dengan kemampuan modal, bukan dengan kebutuhan pasar.
“Kalau ada pesanan banyak, kadang saya harus menolak atau meminta pembeli menunggu,” kenangnya.
Situasi itu berubah ketika Koperasi Jasmine Maju Sejahtera (JMS) menawarkan kerja sama pemberdayaan usaha. Melalui skema permodalan produktif, koperasi membantu menyediakan modal usaha sehingga Bu Yuni tidak lagi kesulitan membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar.
Bagi Bu Yuni, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan dana. Lebih dari itu, modal menjadi titik balik yang mengubah cara usahanya berjalan. Ia dapat merencanakan produksi dengan lebih baik, menjaga ketersediaan stok, sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Perlahan tetapi pasti, kapasitas produksinya mulai bertambah. Ratusan butir telur bebek kini diolah setiap pekan menjadi telur asin berkualitas. Proses pembuatannya tetap mempertahankan cara tradisional agar menghasilkan tekstur kuning telur yang masir, rasa gurih yang khas, dan tingkat kematangan yang merata.

Ada Rasa Kejunya
Menariknya, banyak pembeli me-reviu produk telur asin buatan Bu Yuni memiliki rasa unik mirip keju. Perpaduan gurih alami telur asin dengan aroma keju menghadirkan sensasi baru yang banyak diminati, terutama oleh kalangan anak muda dan keluarga yang ingin mencoba cita rasa berbeda.
“Banyak yang bilang ada rasa asin mirip keju yang justru bikin nagih,” kelakarnya.
Seiring meningkatnya produksi, jaringan pemasarannya pun semakin luas. Terlebih Koperasi JMS mulai memasarkannya melalui media sosial dan lokapasar yang meningkatkan sebaran penjualan. Pesanan mulai berdatangan melalui platform digital sehingga jangkauan konsumennya tidak lagi terbatas oleh wilayah.
Menurut Ketua Koperasi JMS Nurul Rachmawati MS, keberhasilan Bu Yuni menunjukkan bahwa pelaku UMKM sebenarnya memiliki potensi besar untuk tumbuh apabila memperoleh akses terhadap permodalan dan pendampingan yang tepat.
“Ketika modal tersedia, produksi meningkat. Saat produksi bertambah, pasar ikut berkembang. Pada akhirnya, pendapatan keluarga pun meningkat dan roda ekonomi desa bergerak lebih cepat,” imbuhnya.
Berkat kerja sama ini, aktivitas produksi telur asin di rumah Bu Yuni semakin meningkat. Dari sebuah rumah produksi di Desa Arjasa, lahirlah cerita sederhana tentang bagaimana akses permodalan mampu mengubah usaha rumahan menjadi produk lokal yang mulai dikenal lebih luas.
Sekarang, masyarakat dapat memesan dan membeli produk telur asin ini melalui toko daring Ramai Jaya di Lokapasar Shopee. Jika untuk keperluan berniaga, masyarakat juga dapat langsung mengakses situs web www.nuruljekalesa.id untuk mendapat harga distributor. (timms)





