JEMBER – Kalau ada momen ketika sebuah tradisi menjadi fenomena massa yang menggambarkan bagaimana suatu daerah dapat bergerak bersama, Tajemtra 2026 salah satunya. Gerak Jalan Tanggung-Jember Tradisional (Tajemtra) sudah menjadi perhelatan tahunan di Jember sejak dekade 1970-an.
Tahun ini, Pemkab Jember kembali menggelar Tajemtra pada Sabtu, 5 September 2026 kemarin. Tentu saja jauh penyelenggaran tahun ini jauh lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Selain jumlah peserta yang melonjak sampai 69% juga karena kehadiran Bupati Jember Gus Fawait dan istri, Ning Ghyta yang ikut jadi peserta dari awal sampai finish.
Rekor Baru Tajemtra
Tajemtra 2026 mencatat 25.613 peserta, angka tertinggi dalam sejarah penyelenggaraan Tajemtra yang tercatat dalam pemberitaan tahun ini. Para peserta menempuh rute sekitar 30 kilometer, dari Alun-Alun Tanggul menuju Alun-Alun Jember.
Jumlah tersebut meningkat sangat signifikan dibandingkan dua penyelenggaraan sebelumnya. Tajemtra 2024 diikuti 15.155 peserta, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 15.171 peserta. Bahkan sebelum pelaksanaan, Pemerintah Kabupaten Jember telah mencatat lebih dari 22 ribu pendaftar pada 28 Agustus 2026 dan memperkirakan jumlah tersebut akan mencetak rekor baru.
Tajemtra sendiri bukan tradisi baru. Kegiatan ini telah berlangsung sejak 1977 dan pada 2026 memasuki penyelenggaraan ke-49. Selama hampir lima dekade, gerak jalan ini menjadi salah satu tradisi yang melekat dengan masyarakat Jember.
Berjalan Bersama, Bukan Sekadar Berjalan
Di sepanjang rute, Tajemtra mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. ASN, non-ASN, BUMN, BUMD, lembaga, TNI, Polri, pelajar, hingga masyarakat umum ikut berada dalam satu barisan.
Di sinilah Tajemtra menjadi menarik. Semua berjalan di jalur yang sama.
Tidak ada panggung besar yang memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Tidak ada jarak antara mereka yang datang sebagai pejabat, pegawai, komunitas, maupun masyarakat biasa. Semua menghadapi tantangan yang sama: panas, lelah, dan perjalanan panjang menuju garis finis.
Filosofi tersebut juga menjadi pesan yang disampaikan Bupati Jember Muhammad Fawait. Di tengah kondisi fisik yang kurang prima, Gus Fawait tetap mengikuti perjalanan bersama peserta setelah sebelumnya menjalani perawatan dan mendapatkan infus. Ia mengingatkan peserta untuk saling membantu apabila ada yang mengalami kelelahan.
“Kalau ada yang semaput harus saling bantu,” menjadi salah satu gambaran sederhana tentang semangat gotong royong yang ingin dibangun melalui Tajemtra.
Bu Nurul dan Srikandi Jember: Menjadi Bagian dari Cerita
Di tengah lautan peserta yang memenuhi jalur Tanggul–Jember, Nurul Rachmawati MS bersama Srikandi Jember turut mengambil bagian dalam Gerak Jalan Tanggul–Jember Tradisional (Tajemtra) 2026, Sabtu, 5 September 2026.
Bersama Srikandi Jember, Bu Nurul ikut berjalan dan merasakan langsung atmosfer Tajemtra yang tahun ini berlangsung dalam skala terbesar. Bukan hanya melihat dari pinggir jalan, tetapi menjadi bagian dari puluhan ribu orang yang menempuh perjalanan dari Tanggul menuju pusat Kabupaten Jember.
Mereka hadir sebagai bagian dari masyarakat yang ikut menikmati tradisi, bertemu banyak orang, dan merasakan langsung bagaimana puluhan ribu warga Jember bergerak dalam satu kegiatan.
Bagi Bu Nurul, momen seperti Tajemtra memberikan ruang untuk bertemu masyarakat dalam suasana yang cair dan tanpa sekat. Perjalanan panjang justru menjadi kesempatan untuk saling menyapa, berbincang, bercanda, sekaligus berbagi semangat dengan peserta lain.
Bersama Srikandi Jember, perjalanan tersebut juga menjadi bentuk kebersamaan perempuan-perempuan Jember dalam mengambil bagian pada ruang publik dan kegiatan masyarakat.
Dari Tradisi Menjadi Energi Jember
Besarnya jumlah peserta juga membawa dampak yang lebih luas. Sepanjang lintasan sekitar 30 kilometer, Tajemtra menjadi ruang bergeraknya UMKM, pedagang kecil, pelaku jasa, dan masyarakat yang berada di sepanjang jalur. Pemerintah Kabupaten Jember bahkan menempatkan Tajemtra sebagai bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dukungan transportasi juga ikut mengiringi pelaksanaan tahun ini. PT KAI Daop 9 Jember menyediakan delapan kereta kelas eksekutif dengan total 400 kursi untuk mengangkut peserta menuju Tanggul.
Tajemtra 2026 bukan hanya tentang 25.613 orang yang berjalan hampir 30 kilometer. Ia adalah cerita tentang tradisi yang masih hidup, masyarakat yang masih mau bergerak bersama, ekonomi lokal yang ikut berdenyut, dan ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. (timms)





