Oleh: Nurul Rachmawati MS (Pendiri Rumah Aspirasi Rakyat Jekalesa)
Setiap kali berkeliling dan berdialog dengan warga di kawasan utara Jember, satu pertanyaan besar selalu mengusik pikiran saya. Mengapa potensi ekonomi pedesaan yang melimpah ini belum cukup membebaskan masyarakat dari lingkaran ketimpangan?
Kita tentu paham, hampir setiap desa memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Anggaran negara pun turut menyokong keberadaan lembaga ini. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri—berapa banyak BUMDes yang benar-benar hidup, produktif, dan memberi dampak langsung bagi dapur warga? Sebagian besar justru tampak segan hidup matipun tak mau, terjebak pada unit usaha konvensional yang monoton seperti simpan pinjam atau toko kelontong skala kecil yang tak punya daya saing.
Ini kenyataan sekaligus tamparan. Sudah saatnya para kepala desa, mengubah pola pikir, jika mereka tidak mau selamanya jadi penonton atau pengumpul dana transfer pusat. BUMDes harus menjadi motor penggerak ekonomi yang berani, inovatif, dan berakar kuat pada potensi lokal.
Belajar Mandiri: Mengintip Keberhasilan Jambearum dan Sidomulyo
Inovasi BUMDes bukanlah utopia. Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Di Jember sendiri, Pemerintah Desa Jambearum di Kecamatan Puger telah membuktikan keberanian mereka.
Daripada membuat usaha yang sekadarnya, BUMDes Jambearum masuk ke bidang penyewaan alat berat. Sebuah terobosan cerdas yang menjawab kebutuhan riil pembangunan infrastruktur dan pengelolaan lahan di kawasannya. Hasilnya? BUMDes mereka menjadi entitas bisnis menyumbang Penghasilan Asli Desa yang konkret.
Begitu pula dengan Desa Sidomulyo di Kecamatan Silo. Mereka berhasil mengintegrasikan tiga sektor sekaligus: peternakan kambing terpadu, pengembangan desa wisata, dan tata kelola kopi lokal. Hari ini, kita menyaksikan bagaimana kopi dari Sidomulyo mampu menembus pasar ekspor internasional, menyerap ratusan tenaga kerja lokal, dan memikat wisatawan.
Pertanyaannya kemudian, jika Jambearum dan Sidomulyo bisa, mengapa desa-desa di kawasan utara Jember tidak mencoba langkah berani yang serupa?
Inovasi Sampah Menjadi BBM: Solusi Lingkungan dan Ekonomi Warga
Kawasan utara Jember memiliki karakteristik agraris dan permukiman yang semakin padat. Salah satu tantangan riil yang kita hadapi sehari-hari adalah penumpukan sampah plastik yang mencemari sungai dan lingkungan. Namun, di mata saya, persoalan sampah ini sebenarnya adalah “tambang emas” yang belum digarap.
Saya mengusulkan agar BUMDes di wilayah utara Jember berani mengadopsi teknologi pyrolysis—sebuah inovasi tepat guna yang telah dibuktikan oleh anak-anak muda kreatif di Kecamatan Jenggawah. Melalui proses pirolisis, sampah plastik rumah tangga dipanaskan dalam tabung kedap udara pada suhu tinggi hingga menghasilkan cairan hidrokarbon yang setara dengan solar dan bensin.
Bayangkan jika BUMDes menjalankan skema ini dengan pendekatan “Sampah Berbayar”.
1. Rakyat Berdaya: Setiap warga yang memilah dan menyetorkan sampah plastik ke BUMDes akan diberikan upah tunai atau tabungan langsung.
2. Kemandirian Energi: BUMDes mengolah sampah tersebut menjadi BBM alternatif yang dapat digunakan untuk operasional traktor, mesin pompa air pertanian, atau dijual murah kembali ke warga.
3. Lingkungan Bersih: Desa terbebas dari darurat sampah plastik tanpa bergantung pada TPA Kabupaten.
Model ekonomi sirkular ini bukan sekadar teori di atas kertas. Penerapan pirolisis skala BUMDes telah sukses diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Desa Megulung Kidul (Purworejo) dan wilayah Kedungbandang (Banyumas), di mana sampah plastik dikonversi secara nyata menjadi penggerak mesin pertanian warga.
Panggilan untuk Bertindak
Tentu saja saya tidak sedang hanya melempar kritik dan gagasan belaka. Beberapa bulan ini, di Rumah Aspirasi Rakyat Jekalesa, kami sedang mengembangkan konsep sentra pertanian warga terpadu dengan komoditas pakcoi dan selada. Bagi saya, peluang kolaborasi lintas sektor penerapan pirolisis skala BUMDes di kawasan utara Jember, masih berpotensi untuk terlaksana.
Langkah awal perubahan selalu membutuhkan keberanian politik dan komitmen moral dari para kepala desa. Potensi ekonomi wilayah utara Jember sangat besar, namun tanpa visi kepemimpinan yang progresif di tingkat desa, potensi itu hanya akan menjadi catatan statistik semata.





