JEMBER, Pendiri Koperasi Produsen Jasmine Maju Sejahtera, Nurul Rachmawati Machmud Sardjujono mendorong terwujudnya ‘satu desa satu produk’ sebagai upaya membangun ekonomi masyarakat desa. Dia menyontohkan, masyarakat Desa Dawuhanmangli, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember telah memiliki keterampilan lokal dalam membuat kerajinan sangkar burung.
Nurul menceritakan, sejak 1955 masyarakat Desa Dawuhanmangli telah mahir memproduksi sangkar burung, dan bertahan hingga saat ini. Keterampilan itu diwariskan turun temurun, saat ini telah sampai ke generasi ke empat.
“Ceritanya dulu itu sekitar 1955, berawal dari dua orang warga Dawuhanmangli yakni bapak Mahram dan bapak Sawin mampu membuat sangkar burung kemudian dijualnya. Kemudian warga lainnya belajar ke beliaunya, hingga akhirnya semakin banyak yang bisa membuat sangkar burung. Saat ini mayoritas warga Dawuhmangli menggantungkan hidup dari sangkar burung,” jelas Nurul pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Nurul menilai sangkar burung yang diproduksi oleh masyarakat Desa Dawuhanmangli, tidak hanya bernilai estetika, namun juga bernilai historis yang kuat.
“Sangkar burung produksi Desa Dawuhanmangli sangat layak mendunia. Mari kita dorong bersama potensi desa ini, bisa dengan diikutkan ke berbagai pameran skala nasional dan internasional. Di samping estetika, narasi historisnya juga ditonjolkan, bagaimana agar pembeli itu bangga memiliki sangkar burung buatan warga Dawuhanmangli,” ajaknya.
Berdasarkan informasi dari PPID Pemkab Jember, terdapat sekitar 70 persen warga Desa Dawuhanmangli bekerja sebagai perajin sangkar burung.
Keluarga Tohari misalnya, dia mengaku seluruh anggota keluarganya memiliki keahlian membuat sangkar burung.
“Sekeluarga bisa semua (membuat sangkar burung), turun temurun dari nenek saya. Kami sekeluarga gotong royong bagi tugas dalam memproduksi sangkar burung, kalau cuaca cerah, kami bisa menghasilkan 100 sangkar burung dalam waktu 5 hari,” ujar Tohari.
Menurut Tohari, untuk harganya bervariasi mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan estetikanya.
“Ada juga 1 sangkar burung itu terjual Rp.30juta, sesuai nilai artistiknya,” pungkas Tohari.
Sumber referensi:
– PPID Kabupaten Jember





