Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam satu malam. Proklamasi 17 Agustus 1945 memang menjadi titik penting dalam sejarah bangsa, tetapi gagasan tentang Indonesia yang merdeka sudah tumbuh jauh sebelumnya. Ada generasi yang lebih dulu membangun kesadaran, mengorganisasi rakyat, melawan ketidakadilan, dan memperkenalkan gagasan bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri.
Di antara mereka ada Tirto Adhi Soerjo, H.O.S. Tjokroaminoto, serta Tiga Serangkai: Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hadjar Dewantara. Mereka bergerak dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki satu persamaan untuk tidak menerima kolonialisme sebagai keadaan yang harus berlangsung selamanya.
Tirto Adhi Soerjo: Ketika Pena Menjadi Senjata
Pada awal abad ke-20, pers menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kesadaran rakyat pribumi. Di tengah kuatnya kendali kolonial, Tirto Adhi Soerjo memilih menggunakan tulisan sebagai alat perjuangan.
Melalui Medan Prijaji, Tirto membuka ruang bagi persoalan rakyat pribumi. Ia menulis tentang ketidakadilan, kesewenang-wenangan pejabat kolonial, dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia tidak sekadar menyampaikan berita, tetapi mendorong pembacanya untuk melihat bahwa ketidakadilan kolonial bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Tirto juga mendorong masyarakat pribumi untuk membangun kekuatan melalui organisasi dan kegiatan ekonomi. Ia memiliki keterkaitan penting dengan perkembangan awal gerakan Sarekat Dagang Islam, yang kemudian berkembang melalui tokoh seperti Haji Samanhudi dan H.O.S. Tjokroaminoto.
Peran Tirto telah membantu mengubah masyarakat yang semula hanya menjadi objek kekuasaan menjadi masyarakat yang mulai berani bersuara, berkumpul, dan mengorganisasi diri.
Konon, Tirto meninggal pada 7 Desember 1918. Ia tidak sempat melihat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun gagasan yang ia sebarkan melalui pers terus hidup dan menjadi bagian dari perkembangan kesadaran kebangsaan.
H.O.S. Tjokroaminoto: Mengubah Kesadaran Menjadi Gerakan
Jika Tirto menggunakan pers untuk membangunkan kesadaran, H.O.S. Tjokroaminoto membantu mengubah kesadaran itu menjadi kekuatan organisasi.
Tjokroaminoto bergabung dengan Sarekat Dagang Islam dan kemudian memainkan peran besar dalam perkembangannya menjadi Sarekat Islam. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut berkembang menjadi gerakan massa dengan anggota dan pengaruh yang luas di berbagai daerah.
Perjuangannya tidak lagi berhenti pada persoalan perdagangan. Sarekat Islam berkembang menjadi ruang bagi rakyat untuk membicarakan martabat, persamaan, hak rakyat, dan masa depan bangsa.
Yang menarik, pengaruh Tjokroaminoto tidak hanya terlihat dari organisasi yang dipimpinnya. Rumahnya di Surabaya juga menjadi tempat bertemunya gagasan dan anak-anak muda yang kelak mengambil peran penting dalam sejarah Indonesia.
Soekarno, SM Kartosuwiryo, Semaoen, dan Musso pernah berada dalam lingkungan pendidikan politik dan pemikiran Tjokroaminoto. Mereka kemudian mengambil jalan ideologi dan perjuangan yang berbeda. Tetapi pengalaman mereka di lingkungan Tjokroaminoto menunjukkan bagaimana rumah seorang tokoh pergerakan bisa menjadi ruang pembentukan generasi politik.
Tjokroaminoto sendiri wafat pada 17 Desember 1934. Ia tidak menyaksikan Proklamasi 1945, tetapi gagasannya telah membantu menanamkan keberanian bahwa rakyat pribumi bukan sekadar rakyat yang harus diperintah.
Tiga Serangkai: Ketika Perlawanan Menjadi Gagasan Politik
Memasuki 1912, perjuangan kebangsaan memasuki babak penting. Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij. Ketiganya kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.
Mereka membawa gagasan yang lebih terbuka mengenai nasionalisme dan pemerintahan sendiri. Perjuangan tidak lagi hanya berbicara tentang perbaikan nasib rakyat di bawah pemerintahan kolonial. Douwes Dekker menggunakan pers dan politik untuk menyebarkan gagasan nasionalisme. Cipto Mangunkusumo tampil sebagai pengkritik keras kolonialisme. Sementara Ki Hadjar Dewantara kemudian menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk membangun manusia yang memiliki kesadaran dan harga diri.
Indische Partij akhirnya dilarang pemerintah kolonial. Ketiga tokohnya mengalami tekanan dan pembuangan. Namun represi tidak mampu menghapus gagasan yang sudah mereka tanamkan. Bagi mereka, masyarakat yang merdeka membutuhkan lebih dari sekadar perubahan penguasa. Masyarakat membutuhkan kesadaran sebagai bangsa.
Dari Pena, Organisasi, hingga Kesadaran Bangsa
Tirto Adhi Soerjo, H.O.S. Tjokroaminoto, dan Tiga Serangkai memang memiliki cara perjuangan yang berbeda. Tirto membangun kesadaran melalui pers. Tjokroaminoto mengubah kesadaran itu menjadi gerakan massa. dan Tiga Serangkai membawa gagasan nasionalisme ke medan politik, pers, dan pendidikan.
Mereka tidak berada dalam satu organisasi yang sama. Mereka juga tidak selalu memiliki pandangan politik yang sama. Namun ada satu benang merah yang menghubungkan perjuangan mereka yakni menolak kolonialisme dan menumbuhkan kesadaran bahwa rakyat Hindia (kini Indonesia) memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.





