Ada satu pertanyaan yang mungkin sering terlewat setiap kali kita memperingati Hari Koperasi. Mengapa bangsa ini masih mempertahankan koperasi di tengah arus ekonomi yang semakin kompetitif?
Ketika perusahaan-perusahaan tumbuh menjamur, investasi terus berdatangan, dan teknologi mengubah cara orang berbisnis, apa yang membuat koperasi tetap relevan setelah hampir delapan dekade Indonesia merdeka? Barangkali Anda bisa menemukan jawabannya dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada puncak Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Di hadapan puluhan ribu insan koperasi dari berbagai daerah, ia tidak memulai pembicaraan dengan target pertumbuhan ekonomi, hilirisasi, ataupun investasi. Ia justru kembali membicarakan mereka yang selama ini kerap berada di lapis paling bawah dalam struktur ekonomi.
“Saudara-saudara, koperasi adalah alatnya orang lemah, alatnya orang miskin. Tapi, tapi seperti sapu lidi, satu lidi, satu lidi satu lidi satu lidi lemah, tapi bergabung itu kekuatan saudara-saudara sekalian.”
Filosofi Sapu Lidi
Ada alasan mengapa Mohammad Hatta memilih koperasi sebagai jalan ekonomi Indonesia. Ia memahami bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tidak lahir dengan modal besar, akses perbankan yang luas, atau kepemilikan aset yang melimpah. Namun, mereka memiliki satu kekuatan yang tidak dimiliki sistem ekonomi yang bertumpu pada individu yakni kemampuan untuk bergotong royong.
Itulah sebabnya Hatta tidak pernah memandang koperasi sebagai pilihan kedua setelah perusahaan. Sebaliknya, ia meletakkannya sebagai salah satu sokoguru perekonomian nasional, sebuah fondasi yang memungkinkan masyarakat kecil membangun kekuatan ekonomi secara kolektif.
Berangkat dari pandangan itu, kita bisa secara luas memaknai perumpamaan sapu lidi dalam pidato Presiden Prabowo. Satu orang mungkin tidak memiliki daya tawar. Tetapi ketika mereka berhimpun dalam organisasi yang fair, kelemahan individu berubah menjadi kekuatan bersama.
Rupanya Presiden Prabowo tidak hanya sedang mencari analogi yang mudah dipahami. Ia sedang menghidupkan kembali cara pandang yang pernah diperkenalkan Bung Hatta—bahwa kelemahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan sesuatu yang harus dipersatukan agar berubah menjadi kekuatan.
Dari Ekonomi Rakyat Menuju Ekonomi Nasional
Prabowo kemudian membawa pembahasan koperasi ke konteks yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat sering kali memandang koperasi sebagai organisasi ekonomi kelas dua, tempat berkumpulnya mereka yang tidak cukup besar untuk mendirikan perusahaan sendiri.
Pandangan itu, menurutnya, justru lahir karena banyak orang gagal memahami tujuan koperasi sejak awal. Namun Prabowo tegas dalam pidatonya menyampaikan bahwa pemerintah ingin mengembalikan koperasi pada fungsi awalnya, yakni membangun kekuatan ekonomi dari bawah.
Di tengah meningkatnya konsentrasi modal dan kompetisi global yang semakin ketat, koperasi justru menjadi alternatif untuk memperkuat posisi tawar petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga masyarakat desa.
Indonesia Incorporated
Meski demikian, keberpihakan terhadap koperasi bukan berarti pemerintah hendak menempatkan koperasi sebagai satu-satunya mesin ekonomi nasional. Dalam sejumlah kesempatan, termasuk forum ekonomi nasional awal tahun ini, Prabowo memperkenalkan konsep Indonesia Incorporated, sebuah gagasan yang menempatkan seluruh pelaku ekonomi dalam satu ekosistem pembangunan.
Konsep tersebut menjelaskan mengapa pemerintah mendorong koperasi tanpa harus mempertentangkannya dengan sektor swasta, BUMN, BUMD, maupun UMKM. Selama ini, masyarakat kerap memaknai istilah sokoguru perekonomian nasional secara sempit. Seolah-olah koperasi harus menjadi satu-satunya pilar ekonomi Indonesia. Padahal, Bung Hatta tidak pernah meletakkan koperasi dalam posisi yang saling meniadakan dengan bentuk usaha lain.
Sebaliknya, koperasi hadir untuk mengisi ruang yang tidak selalu mampu dijangkau oleh mekanisme pasar. Ia memperkuat ekonomi rakyat, sementara sektor swasta mendorong investasi dan inovasi, UMKM menggerakkan ekonomi lokal, dan BUMN menjalankan fungsi strategis negara. Seluruhnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Di titik itulah gagasan Indonesia Incorporated menemukan relevansinya. Pemerintah ingin memastikan setiap instrumen ekonomi bekerja menuju tujuan yang sama, yakni memperbesar kapasitas ekonomi nasional sekaligus memperluas pemerataan kesejahteraan.
Menghidupkan Kembali Makna Hari Koperasi
Hari Koperasi Nasional tahun ini pada akhirnya lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di tengah target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, pemerintah justru memilih mengingatkan publik pada gagasan yang lahir hampir delapan dekade lalu.
Bung Hatta pernah percaya bahwa bangsa ini tidak akan menjadi kuat apabila rakyatnya berjalan sendiri-sendiri. Prabowo mengulang keyakinan itu melalui perumpamaan sapu lidi. Perumpamaan yang sederhana, tetapi mungkin menjadi cara paling mudah untuk menjelaskan mengapa koperasi tetap bertahan melewati perubahan zaman.
Sebab pada akhirnya, koperasi bukan hanya berbicara tentang badan usaha. Ia berbicara tentang cara sebuah bangsa membangun kekuatan: bukan dengan membesarkan segelintir orang, melainkan dengan membuat sebanyak mungkin orang mampu tumbuh bersama.





