Ketika Presiden Prabowo Menyebut Dirinya Alumni Golkar: Politik Kebersamaan dan Pentingnya Meninggalkan Karya

Ada kalanya sebuah acara peluncuran buku tidak berhenti pada perayaan sebuah karya. Ia justru menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan seseorang, hubungan antartokoh, sekaligus arah politik yang sedang berjalan. Itulah yang terlihat ketika Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.

Buku-buku ini menandai perjalanan 50 tahun Bahlil Lahadalia, yang kini menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya buku dan sosok Bahlil. Dalam forum itu, Prabowo justru membuka kembali satu bagian dari perjalanan politiknya sendiri.

Saat menyapa tokoh senior Golkar Akbar Tandjung, Prabowo mengatakan dirinya juga merupakan alumni Partai Golkar.

“Masalahnya karena saya juga alumni Partai Golkar juga di masa lalu,” kata Prabowo.

Pernyataan itu bukan sekadar nostalgia politik. Prabowo memang pernah mengikuti Konvensi Nasional Golkar 2004 sebagai salah satu kandidat calon presiden yang diusung partai tersebut. Setelah itu, ia juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat Golkar sebelum kemudian membangun jalannya sendiri bersama Partai Gerindra.

Karena itu, ketika Prabowo berbicara tentang dirinya sebagai alumni Golkar, ada sejarah panjang yang ikut hadir dalam ruangan tersebut. Ada masa lalu, ada perjumpaan kembali, dan ada fakta politik hari ini.

Bahlil sendiri kini memimpin Golkar. Sementara Prabowo menjadi Presiden Republik Indonesia dengan Golkar berada dalam barisan pendukung pemerintah. Di titik inilah pesan lain dari Presiden Prabowo menjadi penting. Ia menyebut bahwa politik Indonesia membutuhkan politik kebersamaan.

Politik Tidak Melulu Soal Pertentangan

Tersirat dalam pernyataannya itu, Presiden Prabowo seolah menyampaikan bahwa politik kebersamaan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Justru demokrasi membutuhkan perbedaan. Hanya yang paling penting dan tidak boleh hilang adalah, kemampuan untuk duduk bersama ketika kepentingan bangsa jauh lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Politik akan melelahkan jika seluruh energinya habis hanya untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Politik yang produktif justru ketika kompetisi telah usai, semua pihak mampu kembali bekerja untuk kepentingan masyarakat. Hal semacam itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam sejarah Golkar.

Partai ini telah melewati banyak perubahan zaman, tokoh, pemerintahan, bahkan perubahan sistem politik. Karena itu, pengalaman politik Partai Golkar semestinya tidak hanya diukur dari seberapa besar kekuatan elektoralnya, tetapi juga dari kemampuannya menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok kepentingan.

Dan hari ini, ketika Bahlil memimpin Partai Golkar sekaligus menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo, tantangannya adalah bagaimana posisi politik tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata. Sebab pada akhirnya masyarakat tidak kepandaian berpolitik, melainkan hasil dari setiap tindakannya.

Politik Harus Meninggalkan Jejak, Bukan Sekadar Jabatan

Penggagas Rumas Aspirasi Rakyat Jekalesa sekaligus politisi Partai Golkar Jember, Nurul Rachmawati MS, melihat momentum itu sebagai pengingat bahwa politik pada akhirnya harus kembali kepada kerja nyata.

Menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo sebagai alumni Golkar memperlihatkan bahwa perjalanan politik seseorang tidak selalu berjalan dalam garis lurus.

“Politik itu perjalanan panjang. Kita bisa berada dalam organisasi yang berbeda, berada dalam pilihan politik yang berbeda, tetapi sejarah pertemanan, gagasan, dan perjuangan tidak harus ikut hilang,” ujar Nurul.

Ia juga menilai peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia adalah pengingat bagi siapa pun yang berada di ruang publik bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir.

“Jabatan itu sementara. Yang tinggal adalah karya dan manfaatnya. Karena itu, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk meninggalkan sesuatu bagi banyak orang,” ujar Nurul.

Dari Jakarta ke Daerah

Bagi masyarakat daerah, pembicaraan mengenai politik elite sering terasa jauh. Nama-nama besar muncul di televisi. Partai berganti koalisi. Tokoh bertemu dalam berbagai forum. Tetapi apa dampaknya bagi orang daerah? Pertanyaan sederhana itu seharusnya menjadi ukuran paling sederhana dalam menilai politik.

Ketika politik kebersamaan menghasilkan kebijakan yang memperkuat petani, membuka kesempatan kerja, memperbaiki pendidikan, memperluas akses kesehatan, memperkuat UMKM, dan membangun ekonomi daerah, masyarakat akan merasakan manfaatnya.

Sebaliknya, apabila kebersamaan hanya berhenti pada pertemuan elite, masyarakat tidak akan memperoleh apa-apa. Karena itu, peluncuran buku Bahlil dan pernyataan Prabowo tentang “alumni Golkar” dapat dibaca lebih luas daripada sekadar nostalgia politik.

Ada pesan tentang pentingnya merawat hubungan di tengah perbedaan. Ada pesan tentang pentingnya kebersamaan dalam pemerintahan. Dan ada pesan yang jauh lebih sederhana: perjalanan politik pada akhirnya harus menghasilkan karya. Sebab sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah memegang jabatan. Sejarah juga akan mengingat apa yang mereka kerjakan ketika jabatan itu berada di tangan mereka.

Referensi : sumber pemberitaan di media sosial dan kanal berita

Jelbuk · Kalisat · Ledokombo · Sukowono · Sumberjambe — Lima kecamatan yang saling terhubung dalam satu kawasan, satu harapan, satu perjuangan.

“Berpolitik suka cita, semua karena cinta.”

Kontak


© 2026 nuruljekalesa.id — Nurul Rachmawati MS.
Seluruh hak cipta dilindungi