Empati Tidak Boleh Mati di Tangan Mereka yang Bersumpah Menolong

Oleh: Nurul Rachmawati MS

Media sosial kembali mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupakan: kata-kata dapat melukai, termasuk ketika terucap dari orang yang pekerjaannya menyembuhkan. Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan bukan sekadar menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memantik perdebatan nasional tentang etika profesi tenaga kesehatan di ruang digital.

Peristiwa ini menjadi refleksi bagi kita semua sebagai masyarakat digital untuk lebih peka dalam berkomentar.

Dari Curhatan Soal Rumah Sakit

Kasus tersebut bermula pada 22 Juli 2026. Saat itu Yurizal mengunggah keluhannya di media sosial setelah mengaku harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap meski menggunakan BPJS Kesehatan. Dalam unggahannya, ia bahkan tidak menyebut nama rumah sakit. Ia hanya mencurahkan kondisi yang sedang dialaminya dengan harapan mendapat perhatian atau setidaknya dukungan moral. Namun yang datang justru sebaliknya.

Kolom komentar berubah menjadi ruang yang penuh cibiran. Sejumlah akun yang milik dokter dan tenaga kesehatan melontarkan komentar yang tidak berempati. Ada yang menyindir, meremehkan, bahkan menuliskan kalimat yang mengaitkan ruang jenazah dengan keluhan Yurizal. Komentar-komentar tersebut kemudian menyebar luas dan memicu kemarahan publik. Masyarakat menganggap perbuatan mereka bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang seharusnya jadi prinsip dasar profesi kesehatan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Keluarga yang bersangkutan mengumumkan kabar duka itu melalui akun media sosial yang sama. Setelah kabar tersebar, komentar-komentar yang sebelumnya dianggap candaan berubah menjadi bukti betapa minimnya empati sebagian oknum tenaga kesehatan dalam merespons seorang pasien yang sedang berjuang melawan penyakit.

Tuai Gelombang Kritik

Gelombang kritik pun mengalir dari berbagai pihak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan keprihatinannya dan menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi etika profesi tenaga kesehatan, termasuk perilaku mereka di media sosial. Kementerian Kesehatan juga menyatakan akan menindaklanjuti kasus tersebut melalui mekanisme etik dan profesi. Sementara itu, Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan melakukan investigasi secara terbuka, mengevaluasi dugaan keterlambatan pelayanan, serta memberikan sanksi terhadap tenaga kesehatan yang terbukti melanggar etika.

Belakangan, sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang komentarnya viral menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Namun bagi masyarakat, permintaan maaf saja tidak cukup. Kepercayaan publik terhadap profesi kesehatan dibangun selama bertahun-tahun melalui dedikasi dan pengabdian ribuan dokter serta tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati. Karena itu, tindakan segelintir oknum tidak boleh dibiarkan mencoreng profesi yang mulia tersebut.

Menurut saya, persoalan ini bukan hanya tentang pelayanan kesehatan. Ini adalah cermin bagaimana kita berperilaku di ruang digital. Saat ini semua orang memiliki kebebasan berpendapat, tetapi kebebasan itu harus berjalan berdampingan dengan empati. Tidak semua orang yang menulis di media sosial sedang mencari sensasi. Ada yang sedang meminta pertolongan, sedang menahan sakit, atau bahkan sedang berada di titik terendah hidupnya.

Media sosial memang membuat kita mudah mengetik, tetapi jangan sampai membuat kita sulit merasakan. Kalimat yang tampak biasa bagi penulisnya bisa menjadi beban yang sangat berat bagi orang yang sedang menghadapi cobaan. Karena itu, sebelum berkomentar, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah tulisan ini akan membantu, menguatkan, atau justru melukai?

Kasus Yurizal seharusnya menjadi pengingat bahwa profesionalisme tidak berhenti ketika seseorang melepas seragam atau keluar dari tempat kerja. Etika, empati, dan rasa hormat kepada sesama tetap melekat, baik saat memberikan pelayanan langsung maupun ketika berinteraksi di dunia maya.

Empati bukan hanya kompetensi sosial, melainkan fondasi kemanusiaan. Ketika empati hilang, profesi apa pun kehilangan makna utamanya.


Referensi

  1. BeritaSatu (https://www.beritasatu.com/nasional/3017123/dokter-dan-nakes-nirempati-ke-pasien-bakal-dinonaktifkan-hingga-cabut-str)
  2. Tribun Style (https://style.tribunnews.com/news/379192/kena-mental-curhatannya-dinyinyiri-oknum-nakes-nirempati-yurizal-sempat-minta-doa-ke-sahabat)
  3. Suara.com (https://www.suara.com/news/2026/08/05/141709/komisi-ix-dpr-desak-kemenkes-investigasi-kasus-yurizal-dan-tegur-nakes-nirempati)
  4. Media Indonesia — Menkes Sedih Nakes Nirempati, Kasus Yurizal Jadi Momentum Evaluasi Etika Medis.

Jelbuk · Kalisat · Ledokombo · Sukowono · Sumberjambe — Lima kecamatan yang saling terhubung dalam satu kawasan, satu harapan, satu perjuangan.

“Berpolitik suka cita, semua karena cinta.”

Kontak


© 2026 nuruljekalesa.id — Nurul Rachmawati MS.
Seluruh hak cipta dilindungi